Pages

Jumat, 29 November 2013

Misteri Penghapusan Pelajaran TIK di Kurikulum 2013

MENDALAM: Kepala Litbang PGRI Moch Abduh Zen (kanan) dan Agus Rachman dari Kemendikbud (tengah) saat menjadi pembicara FGD. Foto: Adrianto/indopos
Focus Group Discussion (FGD) Indopos –JPNN.com dan Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa mengupas seputar Guru, antara Perjuangan dan Revolusi Teknologi Informasi. Diskusi ini mengupas berbagai persoalan pendidikan, terutama kesiapan para guru dalam menghadapi revolusi teknologi informasi.

Dari diskusi ini, terungkap sejumlah persoalan serius yang mengemuka. Tidak hanya mempertanyakan profesionalisme guru, tetapi juga Uji Kompetensi Guru (UKG) online, yang servernya ngadat hingga tidak adanya listrik sampai pada pertanyaan menghilangnya mata pelajaran TIK di Kurikulum 2013. Berikut laporan yang akan ditulis bersambung mulai hari ini.


=========================================

Mula-mula diskusi berlangsung adem ayem. Apalagi, pembawaan pemateri pertama Moch Abduh Zen  tampak kalem dan datar-datar saja. Kepala Litbang Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ini didaulat tampil sebagai pemateri pembuka oleh Retno Listyarti, Sekjen Serikat Guru Indonesia (FSGI). Sebelumnya, moderator diskusi Ariyanto yang juga Redpel Indopos memberikan kesempatan pertama kepada Retno.

Entah karena apa, Retno justru melempar kesempatan pertamanya kepada Abduh. Aksi Retno disambut senyum oleh Abduh, kemudian disambut tawa peserta diskusi. Maklum, kedua tokoh guru ini berasal dari dua wadah guru yang berbeda yang dikenal selalu bersaing. Abduh dari PGRI dan Retno sekjen FSGI.

’’Mungkin karena saya dianggap senior, jadi saya yang harus duluan,’’ kata Abduh membuka pembicaraan. FGD yang kali ini mengupas seputar profesionalisme guru di era digital ini juga menampilkan pembicara lain, seperti Praktisi Pendidikan Itje Khodijah, Asep Sapa’at dari Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa, Obert Hoseanto dari Microsoft dan Agus Rachman, Kasubid Pusat Pengembangan Profesi Pendidik, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Juga ada Praktisi Standardisasi Nosa Kurniawan.

Abduh Zen mengakui, kemajuan teknologi informasi telah mengubah sikap dan cara berpikir anak didik. Karena, saat ini siapa pun termasuk anak-anak sudah terbuka akses informasi maupun komunikasi yang nyaris tanpa batas. ’’Karena itu, sebaiknya anak-anak itu harus dibekali keterampilan mendasar, keterampilan berpikir maupun keterampilan berkomunikasi dalam menghadapi kemajuan teknologi,’’ kata Abduh.

Anak-anak, kata Abduh, sebaiknya sudah ditanamkan keterampilan kognitif (cognitive skills) yakni keterampilan berpikir ala pakar. Mereka memiliki kemampuan bukan saja merekam data atau fakta di sekelilingnya, tapi  juga bagaimana mengelola data itu, kemudian dipergunakan untuk memecahkan masalah yang belum ada formulanya.

Selanjutnya, interpersonal skills, yakni anak harus punya kemampuan komunikasi yang baik agar bisa meyakinkan orang terhadap apa yang dia sampaikan. Ketiga adalah kemampuan internal personal, kemampuan  dalam berkomuikasi dengan dirinya sendiri. ”Jadi anak perlu dibekali ketahanan mental, sehingga bisa mengelola gejala psikologis yang timbul dalam dirinya.”

Tentu saja, lanjut Abduh, untuk pembekalan ketiga hal mendasar itu, mau tidak mau akan melibatkan bagaimana gurunya mengajar. Ia lantas menyebut dalam UU Sisdiknas, bahwa dalam UU itu guru ditempatkan sebagai fasilitator. Artinya, guru harus mampu menciptakan suasana proses pembelajaran agar siswa aktif mengembangkan dirinya. Ini pembelajaranactive learning. Tetapi, praktiknya memang belum sepenuhnya dilakukan. 

’’Inilah yang menurut saya harus menjadi fokus perhatian profesionalisme guru bagi pemerintah. Tapi sampai hari ini proyek-proyek profesionalisme guru baru sibuk menguji kompetisi awal, kompetensi akhir, memetakan, tapi sampai kapan akan terimplementasi dalam dunia pendidikan saya belum tahu,’’ ujarnya.

Lain lagi penampilan Sekjen FSGI Retno Listyarti. Seperti biasa Retno selalu tampil semangat dan energik. Ini sangat kontras dengan penampilan pemateri pertama Abduh Zen yang datar-datar saja. Secara lantang, Retno menyebut pemaksaan gagasan yang mengacu pada teknologi justru menjadi akar banyak masalah di dunia pendidikan Indonesia.

Menurut dia, anak-anak harus dididik sesuai era zamannya. Namun sayangnya pemerintah belum mampu melakukannya. ’’Seharusnya, para penentu kebijakan pendidikan itu mampu merumuskan kecakapan apa yang dibutuhkan di masa mendatang,  agar setelah itu para siswa bisa dibekali,’’ kata Retno.

Retno sependapat dengan Abduh, bahwa diera digital ini siswa memiliki cara belajar yang berbeda dengan gurunya. ’’Karena sebagian besar guru yang saat ini mengajar, mereka lahir di saat dunia pendidikan masih bergelut dengan peralatan analog. Tetapi, sekarang mereka harus mengajar anak didik yang lahir dengan pertumbuhan era digital yang begitu pesat,” papar Retno.

Ia menilai para pembuat kebijakan politik tidak pernah seiring dengan kebijakan pendidikan. Saat ini, seharusnya pemerintah menyiapkan infrastruktur teknologi sebagai penunjang pendidikan di era digital. ‘’Terutama dalam ketersediaan listrik. Karena ternyata di Jawa saja, masih ada daerah yang sampai sekarang belum terjamah listrik.”

Sementara, dalam beberapa kebijakan pendidikan pemerintah selalu mengacu kepada teknologi. Namun, di lain pihak masih banyak infrastruktur penunjang teknologi seperti listrik, yang belum ada.  Dia mencontohkan wilayah di Pandeglang, Banten. Salah satu pelosok, yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari Jakarta. 

Namun, di sana masih ada sejumlah sekolah yang belum teraliri Listrik. ’’Kalau di Pandeglang saja belum ada listrik, lalu bagaimana yang di Wai kanan Lampung? Ini sangat ironis, karena pemerintah sekarang menuntut guru harus berhadapan dengan teknologi, tetapi fasilitas masih banyak yang belum memadai,’’ ujarnya. 

Retno kemudian mengkritisi kebijakan Uji Kompetensi Guru (UKG) Online. ’’Kalau listrik saja masih byar pet, atau bahkan belum ada, bagaimana para gurunya bisa ikut UKG Online,’’ ujar Retno. ’’Kebijakannya sudah online, tetapi kebijakan pendidikan belum berorientasi online. Ini kan ironis.’’

Berawal dari situ, Retno lantas menyebut sejumlah kebijakan pendidikan yang diterapkan pemerintah sudah usang. Tak ayal juga kurikulum 2013 yang terbaru, dan mulai akan diterapkan pada tahun ajaran 2013/14 mendatang. “Menurut saya, kurikulum 2013 itu sudah basi. Karena di kurikulum itu justru menghapus mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK),” ujarnya.

Menurut Retno, penghapusan mata pelajaran TIK sungguh sangat bertentangan dengan tuntutan zaman. ’’Ini kebijakan aneh. Di saat para guru dihadapkan dengan revolusi teknologi informasi, justru pelajaran itu dihapus.’’

Persoalan penghapusan mata pelajaran TIK tidak berhenti di sini saja. Tetapi, nasib para guru TIK juga dipertanyakan Retno. Karena, tidak sedikit guru-guru TIK terutama di kota-kota besar banyak yang sudah kompeten di bidang ini. ’’Terus mau dikemanakan guru-guru TIK ini?”

Karena tidak ada kejelasan, lanjut Retno, dengan penghapusan mata pelajaran TIK  ini, para guru-guru TIK harus mengajar yang bukan pada bidangnya. ’’Tetap, apa ya mungkin, seorang guru TIK harus mengajar olah raga, hanya karena mata pelajarannya dihapus. Dan kalau pun ini bisa terjadi, bisa dibayangkan bagaimana kualitas guru itu. Dan ini bisa terjadi, karena tidak ada pilihan. Karena pilihannya antara menganggur, atau berpaling dipaksa mengajar mata pelajaran lain.

Wig Pintar Monitor Gelombang Otak, Dinavigasikan GPS

Wig Pintar Monitor Gelombang Otak, Dinavigasikan GPS


pakah Anda mengalami kebotakan dan sering tersesat? Maka ‘SmartWig’ dari Jepang mungkin alat yang Anda butuhkan. 

Rambut palsu berteknologi tinggi ini dapat membaca gelombang otak pemakai dan mengarahkan pengguna ke tujuan dengan GPS yang sudah terintegrasi. Alat ini merupakan tambahan terbaru dan kemungkinan yang terunik dari daftar wearable computer (perangkat komputer yang bisa dikenakan sebagai aksesori). 

Jepang, negara yang menemukan segudang alat yang mengubah dunia seperti Walkman dan kalkulator saku serta beberapa produk lainnya yang hilang ditelan zaman seperti pemanggang roti berjalan, kini menawarkan kepada kita aksesori rambut berteknologi tinggi. 

Penemuan yang sudah terbukti ini hadir dalam tiga jenis, masing-masing dirancang secara khusus untuk membuat hidup menjadi lebih mudah bagi Anda yang mengalami kebotakan. 

Pemakai Presentation Wig dari jarak jauh dapat mengontrol pointer laser dari rambut palsu mereka. Mereka dapat memutar slideshow PowerPoint dengan menarik jambang kanan dan kembali ke halaman sebelumnya dengan menarik yang sebelah kiri. 

Navigation Wig menggunakan GPS untuk berkomunikasi dengan satelit dan memandu penggunanya ke tempat tujuan dengan getaran kecil di berbagai lokasi di kepala. 

Sementara, Sensing Wig memonitor suhu tubuh, tekanan darah dan gelombang otak dan juga dapat merekam suara dan gambar untuk memungkinkan pemakainya melihat kembali aktivitas selama sehari dan mengetahui apa yang membuat jantung berdebar-debar. 

“Terdapat beragam perangkat kompter yang bisa dikenakan, antara lain kacamata, baju, sepatu dengan teknologi komputer dan lain-lain... Namun, sebagian besar perangkat wearable computer masih belum lazim digunakan dan tidak populer,” ujar pengembang SmartWig dalam sebuah esai yang dirilis tahun lalu. 

“Kami pikir salah satu alasan terbesarnya adalah gaya... fokusnya selama ini adalah fungsi, bukan gaya,” ujar Hiroaki Tobita dan Takuya Kuzi. 

“Tujuan dari SmartWig adalah menghadirkan perangkat wearable yang alami dan praktis,” ujar keduanya, menambahkan bahwa “tampilan yang alami” dari alat temuan mereka -- yang dapat dibuat dari rambut manusia -- berpotensi laris di pasar. 

Juru bicara perusahaan teknologi Sony pada Kamis mengatakan bahwa hak paten untuk SmartWig sudah diajukan di Uni Eropa dan Amerika Serikat, meskipun saat ini belum ada rencana untuk memasarkan produk tersebut. 

Meskipun meraih kesuksesan yang fenomenal melalui Walkman, Sony dalam beberapa tahun terakhir mengalami kesulitan dalam bisnis elektronik yang menjadi andalannya, dan belum menghasilkan satu pun produk yang benar-benar laris di pasar internasional. 

CEO Sony Kazuo Hirai mengatakan kepada media setempat pada bulan lalu bahwa ia kini mengucurkan dana untuk pengembangan perangkat wearable, termasuk smart watch generasi kedua Sony. 

Pesaing terberat Sony dari Korea Selatan, Samsung Electronics, juga memiliki produk yang serupa sementara Apple menurut laporan kini sedang mengembangkan ‘iWatch’.

Jumat, 22 November 2013

India Mampu Luncurkan Satelit ke Mars!

India Mampu Luncurkan Satelit ke Mars!


Liputan6.com, New Delhi : India ada di antara mengejar impian setinggi langit dan menjejak ke tanah menghadapi realitas. Negara tersebut menciptakan sejarah baru pada Selasa 5 November 2013. Berhasil meluncurkan wahana satelit ke Mars. Bagian dari ambisi untuk menjadi yang keempat yang mencapai Planet Merah.

Badan Antariksa India atau Indian Space Research Organisation (ISRO) mengungkapkan misi tersebut bertujuan untuk mendemonstrasikan kemampuan teknologi India dalam rangka mencapai orbit Mars, sekaligus melakukan sejumlah penelitian. Pesawat luar angkasa itu diperkirakan akan melakukan perjalanan selama 300 hari, menempuh jarak 780 juta kilometer, dan akan mencapai orbit Mars pada 2014.Pesawat Mars Orbiter Mission (MOM) diluncurkan pada pukul 09.08 waktu setempat atau pukul 16.08 WIB dari pusat antariksa Satish Dhawan.
Karena kegagalan alat peluncurannya yang paling kuat, yang menjadi pilihan pertama untuk mengangkut MOM ke orbit, Isro tak lagi bisa meluncurkan satelit secara langsung ke luar atmosfer Bumi.
Sebagai alternatif, pesawat akan mengelilingi Bumi dalam orbit elips selama hampir sebulan, membangun kecepatan yang diperlukan untuk menembus daya tarik gravitasi planet manusia. Peluncuran yang dijadwalkan 28 Oktober lalu juga terpaksa molor akibat cuaca buruk di Pasifik.
Jika program ini berhasil, itu berarti Badan Antariksa India menjadi yang keempat di dunia -- setelah AS, Rusia, dan Eropa yang sukses melakukan misi ke Mars.
Sejumlah pengamat berpendapat, MOM -- yang juga populer dengan julukan Mangalyaan -- sebagai lompatan baru India baru dalam perlombaan luar angkasa antar-kekuatan baru di Asia: India, China, Jepang, Korea Selatan.
Prof Andrew Coates dari Mullard Space Science Laboratory, University College London mengatakan, misi ini adalah pencapaian besar bagi India.
"Saya pikir misi ini membuat India bergabung dalam bidang eksplorasi antarplanet internasional, dan tentunya ini tak mudah. India telah menemukan sejumlah celah ilmiah."
Miskin Kok Nekat?
Dengan biaya US$ 74 juta atau Rp 839,9 miliar, misi yang dilakukan India relatif murah. Namun, sejumlah kritikus mempertanyakan bagaimana bisa negara dengan salah satu peringkat tertinggi anak-anak menderita malnutrisi mengeluarkan uang jutaan dolar demi meraih ambisi menjelajahi Planet Merah?
Soal ini, Direktur Eksekutif Oxfam India Nisha Agrawal mengatakan, "India memang rumah bagi orang-orang miskin, namun sekaligus negara yang berekonomiannya sedang bangkit. Ini adalah negara dengan pendapatan menengah, anggota G20. Apa yang sulit diterima orang adalah fakta bahwa India memang penuh kemiskinan, namun sekaligus juga menjadi kekuatan global."
"Kami tak hanya satu negara, tapi dua dalam satu. Yang harus dilakukan juga dua hal: berkontribusi pada pengetahuan global dan merawat mereka yang miskin."
Sementara pimpinan Badan Antariksa India ISRO membeberkan alasan peluncuran satelit ke Mars. "Mengapa India harus punya program luar angkasa? Pertanyaan itu sudah diutarakan selama lebih dari 50 tahun lalu. Dan jawabannya dulu, saat ini, dan pada masa yang akan datang tetap sama: untuk menemukan solusi atas masalah-masalah manusia dan masyarakat."
"Revolusi besar telah terjadi selama 50 tahun terakhir di negara ini, berkat sedikit uang yang dimasukkan dalam program luar angkasa."
Radhakrishnan menegaskan, apa yang dilakukan India tak ada hubungannya dengan isu persaingan melawan China. "Kami tak sedang berlomba dengan siapapun, yang bisa saya katakan adalah, kami sedang berlomba dengan diri kami sendiri. Kami ingin menyempurnakan diri, memperbaiki, dan memberikan layanan baru."
Namun jika peluncuran sukses, itu berarti India menyundul China dalam hal eksplorasi Mars. Satelit China Yinghuo-1 memang telah mencapai orbit Mars di akhir 2012. Tapi digendong pesawat Rusia Phobos Grunt -- yang terdampar di orbit rendah Bumi tak lama setelah diluncurkan pada November 2011.
Jadi... Kapan Indonesia meluncurkan satelit luar angkasa sendiri? 
MENDALAM: Kepala Litbang PGRI Moch Abduh Zen (kanan) dan Agus Rachman dari Kemendikbud (tengah) saat menjadi pembicara FGD. Foto: Adrianto/indopos
Focus Group Discussion (FGD) Indopos –JPNN.com dan Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa mengupas seputar Guru, antara Perjuangan dan Revolusi Teknologi Informasi. Diskusi ini mengupas berbagai persoalan pendidikan, terutama kesiapan para guru dalam menghadapi revolusi teknologi informasi.

Dari diskusi ini, terungkap sejumlah persoalan serius yang mengemuka. Tidak hanya mempertanyakan profesionalisme guru, tetapi juga Uji Kompetensi Guru (UKG) online, yang servernya ngadat hingga tidak adanya listrik sampai pada pertanyaan menghilangnya mata pelajaran TIK di Kurikulum 2013. Berikut laporan yang akan ditulis bersambung mulai hari ini.


=========================================

Mula-mula diskusi berlangsung adem ayem. Apalagi, pembawaan pemateri pertama Moch Abduh Zen  tampak kalem dan datar-datar saja. Kepala Litbang Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ini didaulat tampil sebagai pemateri pembuka oleh Retno Listyarti, Sekjen Serikat Guru Indonesia (FSGI). Sebelumnya, moderator diskusi Ariyanto yang juga Redpel Indopos memberikan kesempatan pertama kepada Retno.

Entah karena apa, Retno justru melempar kesempatan pertamanya kepada Abduh. Aksi Retno disambut senyum oleh Abduh, kemudian disambut tawa peserta diskusi. Maklum, kedua tokoh guru ini berasal dari dua wadah guru yang berbeda yang dikenal selalu bersaing. Abduh dari PGRI dan Retno sekjen FSGI.

’’Mungkin karena saya dianggap senior, jadi saya yang harus duluan,’’ kata Abduh membuka pembicaraan. FGD yang kali ini mengupas seputar profesionalisme guru di era digital ini juga menampilkan pembicara lain, seperti Praktisi Pendidikan Itje Khodijah, Asep Sapa’at dari Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa, Obert Hoseanto dari Microsoft dan Agus Rachman, Kasubid Pusat Pengembangan Profesi Pendidik, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Juga ada Praktisi Standardisasi Nosa Kurniawan.

Abduh Zen mengakui, kemajuan teknologi informasi telah mengubah sikap dan cara berpikir anak didik. Karena, saat ini siapa pun termasuk anak-anak sudah terbuka akses informasi maupun komunikasi yang nyaris tanpa batas. ’’Karena itu, sebaiknya anak-anak itu harus dibekali keterampilan mendasar, keterampilan berpikir maupun keterampilan berkomunikasi dalam menghadapi kemajuan teknologi,’’ kata Abduh.

Anak-anak, kata Abduh, sebaiknya sudah ditanamkan keterampilan kognitif (cognitive skills) yakni keterampilan berpikir ala pakar. Mereka memiliki kemampuan bukan saja merekam data atau fakta di sekelilingnya, tapi  juga bagaimana mengelola data itu, kemudian dipergunakan untuk memecahkan masalah yang belum ada formulanya.

Selanjutnya, interpersonal skills, yakni anak harus punya kemampuan komunikasi yang baik agar bisa meyakinkan orang terhadap apa yang dia sampaikan. Ketiga adalah kemampuan internal personal, kemampuan  dalam berkomuikasi dengan dirinya sendiri. ”Jadi anak perlu dibekali ketahanan mental, sehingga bisa mengelola gejala psikologis yang timbul dalam dirinya.”

Tentu saja, lanjut Abduh, untuk pembekalan ketiga hal mendasar itu, mau tidak mau akan melibatkan bagaimana gurunya mengajar. Ia lantas menyebut dalam UU Sisdiknas, bahwa dalam UU itu guru ditempatkan sebagai fasilitator. Artinya, guru harus mampu menciptakan suasana proses pembelajaran agar siswa aktif mengembangkan dirinya. Ini pembelajaranactive learning. Tetapi, praktiknya memang belum sepenuhnya dilakukan. 

’’Inilah yang menurut saya harus menjadi fokus perhatian profesionalisme guru bagi pemerintah. Tapi sampai hari ini proyek-proyek profesionalisme guru baru sibuk menguji kompetisi awal, kompetensi akhir, memetakan, tapi sampai kapan akan terimplementasi dalam dunia pendidikan saya belum tahu,’’ ujarnya.

Lain lagi penampilan Sekjen FSGI Retno Listyarti. Seperti biasa Retno selalu tampil semangat dan energik. Ini sangat kontras dengan penampilan pemateri pertama Abduh Zen yang datar-datar saja. Secara lantang, Retno menyebut pemaksaan gagasan yang mengacu pada teknologi justru menjadi akar banyak masalah di dunia pendidikan Indonesia.

Menurut dia, anak-anak harus dididik sesuai era zamannya. Namun sayangnya pemerintah belum mampu melakukannya. ’’Seharusnya, para penentu kebijakan pendidikan itu mampu merumuskan kecakapan apa yang dibutuhkan di masa mendatang,  agar setelah itu para siswa bisa dibekali,’’ kata Retno.

Retno sependapat dengan Abduh, bahwa diera digital ini siswa memiliki cara belajar yang berbeda dengan gurunya. ’’Karena sebagian besar guru yang saat ini mengajar, mereka lahir di saat dunia pendidikan masih bergelut dengan peralatan analog. Tetapi, sekarang mereka harus mengajar anak didik yang lahir dengan pertumbuhan era digital yang begitu pesat,” papar Retno.

Ia menilai para pembuat kebijakan politik tidak pernah seiring dengan kebijakan pendidikan. Saat ini, seharusnya pemerintah menyiapkan infrastruktur teknologi sebagai penunjang pendidikan di era digital. ‘’Terutama dalam ketersediaan listrik. Karena ternyata di Jawa saja, masih ada daerah yang sampai sekarang belum terjamah listrik.”

Sementara, dalam beberapa kebijakan pendidikan pemerintah selalu mengacu kepada teknologi. Namun, di lain pihak masih banyak infrastruktur penunjang teknologi seperti listrik, yang belum ada.  Dia mencontohkan wilayah di Pandeglang, Banten. Salah satu pelosok, yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari Jakarta. 

Namun, di sana masih ada sejumlah sekolah yang belum teraliri Listrik. ’’Kalau di Pandeglang saja belum ada listrik, lalu bagaimana yang di Wai kanan Lampung? Ini sangat ironis, karena pemerintah sekarang menuntut guru harus berhadapan dengan teknologi, tetapi fasilitas masih banyak yang belum memadai,’’ ujarnya. 

Retno kemudian mengkritisi kebijakan Uji Kompetensi Guru (UKG) Online. ’’Kalau listrik saja masih byar pet, atau bahkan belum ada, bagaimana para gurunya bisa ikut UKG Online,’’ ujar Retno. ’’Kebijakannya sudah online, tetapi kebijakan pendidikan belum berorientasi online. Ini kan ironis.’’

Berawal dari situ, Retno lantas menyebut sejumlah kebijakan pendidikan yang diterapkan pemerintah sudah usang. Tak ayal juga kurikulum 2013 yang terbaru, dan mulai akan diterapkan pada tahun ajaran 2013/14 mendatang. “Menurut saya, kurikulum 2013 itu sudah basi. Karena di kurikulum itu justru menghapus mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK),” ujarnya.

Menurut Retno, penghapusan mata pelajaran TIK sungguh sangat bertentangan dengan tuntutan zaman. ’’Ini kebijakan aneh. Di saat para guru dihadapkan dengan revolusi teknologi informasi, justru pelajaran itu dihapus.’’

Persoalan penghapusan mata pelajaran TIK tidak berhenti di sini saja. Tetapi, nasib para guru TIK juga dipertanyakan Retno. Karena, tidak sedikit guru-guru TIK terutama di kota-kota besar banyak yang sudah kompeten di bidang ini. ’’Terus mau dikemanakan guru-guru TIK ini?”

Karena tidak ada kejelasan, lanjut Retno, dengan penghapusan mata pelajaran TIK  ini, para guru-guru TIK harus mengajar yang bukan pada bidangnya. ’’Tetap, apa ya mungkin, seorang guru TIK harus mengajar olah raga, hanya karena mata pelajarannya dihapus. Dan kalau pun ini bisa terjadi, bisa dibayangkan bagaimana kualitas guru itu. Dan ini bisa terjadi, karena tidak ada pilihan. Karena pilihannya antara menganggur, atau berpaling dipaksa mengajar mata pelajaran lain.

Wig Pintar Monitor Gelombang Otak, Dinavigasikan GPS


pakah Anda mengalami kebotakan dan sering tersesat? Maka ‘SmartWig’ dari Jepang mungkin alat yang Anda butuhkan. 

Rambut palsu berteknologi tinggi ini dapat membaca gelombang otak pemakai dan mengarahkan pengguna ke tujuan dengan GPS yang sudah terintegrasi. Alat ini merupakan tambahan terbaru dan kemungkinan yang terunik dari daftar wearable computer (perangkat komputer yang bisa dikenakan sebagai aksesori). 

Jepang, negara yang menemukan segudang alat yang mengubah dunia seperti Walkman dan kalkulator saku serta beberapa produk lainnya yang hilang ditelan zaman seperti pemanggang roti berjalan, kini menawarkan kepada kita aksesori rambut berteknologi tinggi. 

Penemuan yang sudah terbukti ini hadir dalam tiga jenis, masing-masing dirancang secara khusus untuk membuat hidup menjadi lebih mudah bagi Anda yang mengalami kebotakan. 

Pemakai Presentation Wig dari jarak jauh dapat mengontrol pointer laser dari rambut palsu mereka. Mereka dapat memutar slideshow PowerPoint dengan menarik jambang kanan dan kembali ke halaman sebelumnya dengan menarik yang sebelah kiri. 

Navigation Wig menggunakan GPS untuk berkomunikasi dengan satelit dan memandu penggunanya ke tempat tujuan dengan getaran kecil di berbagai lokasi di kepala. 

Sementara, Sensing Wig memonitor suhu tubuh, tekanan darah dan gelombang otak dan juga dapat merekam suara dan gambar untuk memungkinkan pemakainya melihat kembali aktivitas selama sehari dan mengetahui apa yang membuat jantung berdebar-debar. 

“Terdapat beragam perangkat kompter yang bisa dikenakan, antara lain kacamata, baju, sepatu dengan teknologi komputer dan lain-lain... Namun, sebagian besar perangkat wearable computer masih belum lazim digunakan dan tidak populer,” ujar pengembang SmartWig dalam sebuah esai yang dirilis tahun lalu. 

“Kami pikir salah satu alasan terbesarnya adalah gaya... fokusnya selama ini adalah fungsi, bukan gaya,” ujar Hiroaki Tobita dan Takuya Kuzi. 

“Tujuan dari SmartWig adalah menghadirkan perangkat wearable yang alami dan praktis,” ujar keduanya, menambahkan bahwa “tampilan yang alami” dari alat temuan mereka -- yang dapat dibuat dari rambut manusia -- berpotensi laris di pasar. 

Juru bicara perusahaan teknologi Sony pada Kamis mengatakan bahwa hak paten untuk SmartWig sudah diajukan di Uni Eropa dan Amerika Serikat, meskipun saat ini belum ada rencana untuk memasarkan produk tersebut. 

Meskipun meraih kesuksesan yang fenomenal melalui Walkman, Sony dalam beberapa tahun terakhir mengalami kesulitan dalam bisnis elektronik yang menjadi andalannya, dan belum menghasilkan satu pun produk yang benar-benar laris di pasar internasional. 

CEO Sony Kazuo Hirai mengatakan kepada media setempat pada bulan lalu bahwa ia kini mengucurkan dana untuk pengembangan perangkat wearable, termasuk smart watch generasi kedua Sony. 

Pesaing terberat Sony dari Korea Selatan, Samsung Electronics, juga memiliki produk yang serupa sementara Apple menurut laporan kini sedang mengembangkan ‘iWatch’.

India Mampu Luncurkan Satelit ke Mars!


Liputan6.com, New Delhi : India ada di antara mengejar impian setinggi langit dan menjejak ke tanah menghadapi realitas. Negara tersebut menciptakan sejarah baru pada Selasa 5 November 2013. Berhasil meluncurkan wahana satelit ke Mars. Bagian dari ambisi untuk menjadi yang keempat yang mencapai Planet Merah.

Badan Antariksa India atau Indian Space Research Organisation (ISRO) mengungkapkan misi tersebut bertujuan untuk mendemonstrasikan kemampuan teknologi India dalam rangka mencapai orbit Mars, sekaligus melakukan sejumlah penelitian. Pesawat luar angkasa itu diperkirakan akan melakukan perjalanan selama 300 hari, menempuh jarak 780 juta kilometer, dan akan mencapai orbit Mars pada 2014.Pesawat Mars Orbiter Mission (MOM) diluncurkan pada pukul 09.08 waktu setempat atau pukul 16.08 WIB dari pusat antariksa Satish Dhawan.
Karena kegagalan alat peluncurannya yang paling kuat, yang menjadi pilihan pertama untuk mengangkut MOM ke orbit, Isro tak lagi bisa meluncurkan satelit secara langsung ke luar atmosfer Bumi.
Sebagai alternatif, pesawat akan mengelilingi Bumi dalam orbit elips selama hampir sebulan, membangun kecepatan yang diperlukan untuk menembus daya tarik gravitasi planet manusia. Peluncuran yang dijadwalkan 28 Oktober lalu juga terpaksa molor akibat cuaca buruk di Pasifik.
Jika program ini berhasil, itu berarti Badan Antariksa India menjadi yang keempat di dunia -- setelah AS, Rusia, dan Eropa yang sukses melakukan misi ke Mars.
Sejumlah pengamat berpendapat, MOM -- yang juga populer dengan julukan Mangalyaan -- sebagai lompatan baru India baru dalam perlombaan luar angkasa antar-kekuatan baru di Asia: India, China, Jepang, Korea Selatan.
Prof Andrew Coates dari Mullard Space Science Laboratory, University College London mengatakan, misi ini adalah pencapaian besar bagi India.
"Saya pikir misi ini membuat India bergabung dalam bidang eksplorasi antarplanet internasional, dan tentunya ini tak mudah. India telah menemukan sejumlah celah ilmiah."
Miskin Kok Nekat?
Dengan biaya US$ 74 juta atau Rp 839,9 miliar, misi yang dilakukan India relatif murah. Namun, sejumlah kritikus mempertanyakan bagaimana bisa negara dengan salah satu peringkat tertinggi anak-anak menderita malnutrisi mengeluarkan uang jutaan dolar demi meraih ambisi menjelajahi Planet Merah?
Soal ini, Direktur Eksekutif Oxfam India Nisha Agrawal mengatakan, "India memang rumah bagi orang-orang miskin, namun sekaligus negara yang berekonomiannya sedang bangkit. Ini adalah negara dengan pendapatan menengah, anggota G20. Apa yang sulit diterima orang adalah fakta bahwa India memang penuh kemiskinan, namun sekaligus juga menjadi kekuatan global."
"Kami tak hanya satu negara, tapi dua dalam satu. Yang harus dilakukan juga dua hal: berkontribusi pada pengetahuan global dan merawat mereka yang miskin."
Sementara pimpinan Badan Antariksa India ISRO membeberkan alasan peluncuran satelit ke Mars. "Mengapa India harus punya program luar angkasa? Pertanyaan itu sudah diutarakan selama lebih dari 50 tahun lalu. Dan jawabannya dulu, saat ini, dan pada masa yang akan datang tetap sama: untuk menemukan solusi atas masalah-masalah manusia dan masyarakat."
"Revolusi besar telah terjadi selama 50 tahun terakhir di negara ini, berkat sedikit uang yang dimasukkan dalam program luar angkasa."
Radhakrishnan menegaskan, apa yang dilakukan India tak ada hubungannya dengan isu persaingan melawan China. "Kami tak sedang berlomba dengan siapapun, yang bisa saya katakan adalah, kami sedang berlomba dengan diri kami sendiri. Kami ingin menyempurnakan diri, memperbaiki, dan memberikan layanan baru."
Namun jika peluncuran sukses, itu berarti India menyundul China dalam hal eksplorasi Mars. Satelit China Yinghuo-1 memang telah mencapai orbit Mars di akhir 2012. Tapi digendong pesawat Rusia Phobos Grunt -- yang terdampar di orbit rendah Bumi tak lama setelah diluncurkan pada November 2011.
Jadi... Kapan Indonesia meluncurkan satelit luar angkasa sendiri?